Teori Nilai

   

Penganut aliran ekonomi klasik merupakan orang orang yang pertama kali mempermasalahkan dan mempelajari tentang nilai, lebih tepatnya mengenai nilai tukar. Teori nilai ini sendiri terdiri dari teori nilai objektif dan teori nilai subjektif. Masing masing teori nilai ini memiliki masalah tersendiri dalam metode penyelidikan yang akan dilakukan.

Teori nilai objektif mengambil titik pandang nilai suatu barang berdasarkan barang itu sendiri sebagai objek yang akan ditelititi. Pertanyaan hipotesis seperti Bagaimana bisa jadi barang itu? Apa barang yang diteliti ini memiliki kegunaan untuk pakai dan kegunaan untuk tukar?

Teori Nilai Objektif

Peran produsen terasa akan sangat penting, sebab yang mengetahui awal barang hingga sampai ke pasar itu adalah produsen. Unsur utama dalam pencarian teori nilai objektif ini adalah : barang yang akan diselidiki, pemberian nilai oleh produsen dan apa barang ini memiliki fungsi pakai dan fungsi tukar. Dalam hal ini ada beberapa ahli ekonomi klasik yang menyatakan pendapatnya tentang teori nilai objektif ini.

Teori Nilai Biaya Produksi (Adam Smith)
. Dalam memproduksi suatu barang dibutuhkan modal dan tenaga. Modal dan tenaga yang digunakan untuk memproduksi barang inilah nanti yang akan menjadi nilai bendanya. Besar odal dan tenaga (biaya produksi) ini yang akan dijadikan patokan nilai suatu benda.

Teori Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja (David Ricardo). David Ricardo berpendapat bahwa nilai barang dipatok dari kapasitas tenaga kerja yan dibutuhkan dalam memproduksi barang tersebut. Lingkup tenaga kerja tersebut meliput alat produksi (mesin termasuk) dan tenaga manusia. Sebagai tambahan, David Ricardo mengklasifikasikan benda menjadi dua, yaitu bnda yang mungkin diperbanyak dengan mudah dan benda yang tidak bisa diperbanyak lagi (e.g Lukisan dan Karya Seniman).

Teori Nilai Tenaga Rata-Rata Masyarakat dan Teori Nilai. Lebih (Karl Marx). Teori yang dikemukakan Karl Max ini adalah lanjutan ide David Ricardo. Tenaga kerja yang menjadi sumber nilai dihitung berdasarkan tenaga kerja rata rata masyarakat.Pengembangan teori nilai rata-rata masyarakat ini berlanjut kepada teori pemerasan yang berisi tentang ketidak seimbangan kondisi sosial ekonomi di masyarakat. Lebih lanjut teori pemerasan ini akan menjelaskan penguraian teori nilai lebih.
Teori Nilai Biaya Reproduksi (Carey). Carey mengemukakan bahwa nilai barang ditentukan atas dasar biaya reproduksi barang itu sendiri. Ilustrasinya seperti ini, jika untuk membuat sebuah baju Rp 40.000,- , setelah sebulan harga kain naik dan harga produksi menjadi Rp 50.000,- Maka biaya reproduksi barang tersebut adalah Rp 50.000,- yang artinya nilai barang tersebut Rp 50.000,-

Teori Nilai Pasar (David Humme dan John Locke). Teori dari David Humme dan Locke ini dikenal dengan market value theory. Nilai suatu barang akan ditentukan ole kondisi pasar yang meliputi aktifitas penawaran dan permintaan.


Teori Nilai Subjektif

Beberapa nama yang dikenal sebagai pelopor teori nilai subjektif adalah Herman Heinrich Gossen, Karl Menger, dan Von Bohm Bawerk. Pada teori sebelumnya teori nilai objektif) bahwasanya dinyatakan barang dengan fungsi pakai umum akan bernilai tinggi. Namun ada suatu kejanggalan, dengan contoh air. Air dengan fungsi pakai yang tinggi tetap saja bernilai lebih murah dibanding intan yang justru memiliki fungsi pakai rendah tetapi nilainya besar. Awalnya ini tidak menjadi titik fokuspenganut aliran teori ekonomi klasik.

Contoh di atas akhirnya bisa dijelaskan dengan hukum Gossen I dan Hukum Gossen II. Analitik nilai suatu barang berhubungan dengan kepuasan yang dirasakan oleh pemakai. Dihubungka dengan teori nilai suatu barang dengan si pemakainya, jika barang digunakan secara terus menerus maka kepuasan akan berkurang hingga sampai ke titik kepuasan. (Hukum Gossen). Pada saat seperti inilah jika telah merasa puas maka barang tidak lagi dianggap bernilai. Itulah inti dari teori nilai subjektif ini, nilai barang ditentukan oleh subjek (pemakainya).
dalam:

Share:

Loading...

Postingan Terkait