Contoh PTK Bab I sampai Bab III

   

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal itu merupakan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN).

Sekolah unggul seharusnya  memiliki payung hukum pada beberapa dimensi. Ada beberapa ketentuan dalam UU SPN yang dapat dijadikan rujukan untuk membahas sekolah unggulan UU SPN juga mengatur bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Merupakan kewajiban pemerintah agar setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Oleh karena itu, kini semakin banyak sekolah berbasis internasional yang banyak diminati masyarakat untuk memasukkan anaknya di lembaga pendidikan tersebut. Faktanya, tidak hanya sekolah negeri saja yang sudah dinyatakan berbasis internasional. Lembaga pendidikan swasta pun juga berlomba-lomba menaikkan statusnya menjadi sekolah berbasis internasional.

Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilain pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Dalam konteks ini pendidik dan tenaga kependidikan mempunyai sejumlah kewajiban. Yakni. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Pendidik harus memiliki sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi. Sekolah sebagai lembaga pendidikan, menjadi tempat guru mengajar dan murid belajar, sehingga terjadilah proses belajar mengajar. Melalui proses ini, murid dapat meningkatkan serta memperkembangkan ilmu pengetahuan, pandangan hidup, kebijakan dan kepribadian. Tata hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya, manusia dengan Tuhan. Dan mengembangkan teknologi keterampilan kesenian. Oleh karena itu sekolah dituntut untuk mengembangkan kultur sebagai masyarakat belajar. Yakni masyarakat yang memiliki tata kehidupan yang mengatur hubungan antar guru dengan lingkungannya mengajar, dan murid belajar dalam suatu proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, dalam suasana yang menggairahkan.

Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat belajar adalah terdapat guru mengajar dan murid belajar dengan baik. Terjadi proses belajar mengajar yang baik. Tercipta masyarakat yang mau belajar keras dan bekerja keras. Terbentuk manusia Indonesia seutuhnya. Terpilih menjadi teladan masyarakat sekitarnya.

Pengembangan sekolah sebagai masyarakat belajar mempunyai tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya, Secara terperinci, tujuan pengembangan sekolah sebagai masyarakat belajar adalah meningkatkan mutu pendidikan. Menciptakan masyarakat yang mau belajar keras dan bekerja keras. Membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Menjadikan sekolah sebagai teladan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.
Jika semua faktor tersebut sudah mampu dilaksanakan dengan baik dan berkualitas berdasarkan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, maka kultur sekolah unggulan seperti yang diharapkan bisa tumbuh dengan baik pula. Juga masih dituntut untuk mampu menghadapi persaingan dunia pendidikan dan persaingan global di tengah masyarakat.

SMA Negeri 10 Padang  pada saat ini ditunjuk sebagai sekolah RSMABI. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Persepsi guru SMA Negeri10 Padang terhadap RSMABI.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan penelitian ini dirumuskan  “ Bagaimana persepsi Guru SMA Negeri 10 Padang terhadap RSMABI ”

1.3 Tujuan Penelitian

Sejauh mana Persepsi guru SMA Negeri 10 Padang terhadap RSMABI.

1.4 Manfaat Penelitian

Untuk memberi gambaran persepsi guru SMA Negeri 10 Padang terhadap RSMABI.
a. Untuk membantu Kepala Sekolah mengambil keputusan dalam menentukan kebijakan RSMABI
b. Sebagai rekomendasi bagi Pemda untuk memberikan perhatian bagi RSMABI.

BAB II: LANDASAN TEORI

2.1.   Persepsi 

Persepsi berasal dari kata percipere yang berarti menerima, perseption, pengumpulan, penerimaan, pandangan (Komarudin, 2000:91).dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata persepsi memiliki dua pengertian yaitu tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu dan proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya (Tim Kamus Pusat Bahasa, 2001:863).

Sementara itu, Rahmat (1998:51) persepsi adalah pengamatan tentang objek peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi juga memberikan makna pada stimuli inderawi/Sensori Stimuli.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi  sangat di tentukan oleh faktor personal dan faktor situasional  (Rahmat, 2004 : 51 ). Sedangkan Krch dan Crutchfield (1977:235) menyebutkan persepsi sangat dipengaruhi oleh faktor fungsional dan faktor struktural. Selain itu Andersen ( 1972 : 46 ) mengemukakan bahwa “perhatian” juga mempengaruhi persepsi. Pengertian “perhatian”   adalah suatu proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam  kesadaran  pada saat stimuli lainnya melemah. Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita, dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain. Sehingga dengan adanya perhatian akan memberikan stimulus melalui pancaindra yang selanjutnya dapat menimbulkan respon setelah melewati organisme, seperti teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus-Organism-Respone.Teori S-O-R yang dikemukakan Mar`at,(1982:27)

2.2 Refleksi RSMABI

Manusia adalah makhluk sosial. Berkomunikasi pada hakekatnya merupakan kebutuhan dasar manusia sekaligus sebagai penanda kehidupan. Kapasitas hidup juga ditentukan oleh seberapa jaring komunikasi dapat dibangun. Belajar pada hakekatnya terjadi pada interaksi sosial pada aktivitas kehidupan sehari-hari. Melalui komunikasi ini manusia meningkatkan daya belajarnya,
Konsep yang menyangkut interaksi manusia di antaranya dikemukakan Daniel Goleman berteori tentang  Emotional Intellegence yang fokus pada 4 kompetensi  berupa kecakapan  mengendalikan kinerja kepemimpinan seseorang (http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_intelligence#). Ia mempelajari berbagai kecakapan berikut:

  1. Kesadaran diri – merupakan keterampilan emosi seseorang  dan mengakui pengaruh perasaannya yang dalam mengambil keputusan.
  2. Manajemen diri sendiri, mengontrol emosi dan gerak hati dalam beradaptasi dengan berbagai keadaan.
  3. Kesadaran sosial- merupakan kecakapan mengelola emosi dalam  memahami dan merespon secara komperhensif dalam jaringan sosial.
  4. Manajemen kerja sama – merupakan kecakapan dalam memberi inspirasi, pengaruh, dan mengembangkan kerja sama jika terjadi konflik.

Teori itu menegaskan bahwa  kecerdasan emosi pada intinya merupakan tingkat kecakapan seseorang  dalam mengelola emosinya di tengah-tengah lingkungannya sehingga dapat diterima oleh sesama. Teori ini  menjelaskan pula bahwa kecerdasan emosi seseorang mengalami perkembangan terus sepanjang hidupnya. Perubahannya bergantung pada daya belajarnya.

Dalam menghadapi berbagai kendala di atas pengembangan sister school antar sekolah di tanah air merupakan sebuah alternatif penting. Strategi ini perlu dipertajam dengan mengembangkan model kerja sama antar sekolah dalam melakukan perbaikan mutu yang khas yang menjadi kebutuhan sekolah.

Contoh kongkrit yang dapat dilakukan adalah kerja sama sekolah yang setara secara akademik maupun sumber daya manusianya dalam menyempurnakan kurikulum, perangkat persiapan pembelajaran, metode mengajar, atau alat peraga pembelajaran. Pertemuan-pertemuan guru dari sekolah yang sama elit di daerahnya dengan sekolah elit dari daerah lain akan membawa gengsi besar masing-masing. Jika modal mental besar seperti ini dikembangkan sebagai energi untuk mengembangkan perbaikan dalam berbagai hal, dapat berpengaruh positif pada hasil kerja. Kerja sama seperti ini dapat didukung pula dengan teknologi komunikasi sehingga kerjasama dapat dilakukan dalam setiap saat dan berkelanjutan.

Model Inisiatif kerja sama dapat dilakukan pula pada tingkat pertukaran siswa. Dalam hal ini tidak harus antar sekolah yang memiliki modal dasar yang setara. Perbedaan sosial ekonomi yang tinggi antara dua sekolah dapat menjadi wahana yang penting sebagai sumber belajar melalui pembentukan pengalaman. Siswa dari sekolah elit yang bergabung dengan sekolah yang memiliki keterbatasan ekonomi secara empirik telah memberikan kontribusi pengalaman yang baik terhadap perkembangan mental siswa. Demikian pula kerja sama antar sekolah dan antar daerah dapat mengembangkan pengalaman hidup yang perlu dalam mempersiapkan hidup.

Dengan demikian dapat kita nyatakan bahwa idealnya sebelum sekolah dapat melakukan kerja sama dengan sekolah lain di luar negeri, maka kerja sama yang dilandasi dengan mentalitas kesetaraan, saling memberi jalan, saling membantu saling berbagi harus dikembangkan melalui kerjasama sekolah di dalam negeri terlebih dahulu.

Salah satu kriteria sekolah bertaraf internasional adalah memiliki kecakapan mengembangkan manajemen kerja sama dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri.
Hasil evalusi kinerja pada program rintisan SMA bertaraf internasional pada tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembina SMA menunjukan bahwa dari 197 sekolah yang dievaluasi, 69% sekolah belum melakukan langkah-langkah kongkrit mengembangkan kerja sama sesuai dengan kriteria pada standar.

Hambatan utama yang tampak adalah masih terbatasnya pemahaman dan penguasaan prosedur membangun kerja sama antar sekolah. Faktor kedua adalah terbatasnya modal sumber daya manusia pada aspek mental, kultural, kompetensi bahasa Inggris dan manajemen kerja sama serta penguasaan teknologi komunikasi.

Hambatan kultural terlihat pada kuatnya kemandirian sekolah dalam mengembangkan daya kompetisi masing-masing sehingga sekolah cenderung menutup diri. Sikap berbagi pengetahuan dan hasil pekerjaan antar sekolah berkembang kurang optimal. Jika sekolah memiliki keunggulan tertentu cendrung untuk menyembunyikan sebagai salah satu strategi berkompetisi. Sikap saling memberi jalan dan saling membantu sebagai dasar untuk melakukan kerja sama semakin terbatas pada sekolah-sekolah tradisional.

Sikap mental sekolah-sekolah yang kecerdasan emosionalnya rendah cenderung menempatkan diri pada tataran sosial bawah sehingga melalui kerja sama yang diharapkannya adalah memperoleh bantuan bukan menempatkan diri sejajar untuk berbagi. Oleh karena itu, menggali potensi kekuatan untuk bahan pertukaran kerja sama susah dikembangkan. Pada kondisi seperti ini maka inisiatif untuk mengembangkan kerja sama cenderung lambat berkembang.

Hambatan dalam penguasaan bahasa Inggris untuk melakukan kerja sama  dengan perantaraan teknologi informasi dan komunikasi yang terbuka luas merupakan fakta yang dapat ditemukan secara luas di banyak sekolah. Kebingungan untuk melakukan kontak melalui teknologi merupakan kesulitan yang terungkap pada kunjungan ke berbagai sekolah.

2.3 Penilaian

Penilaian dan pengajaran merupakan dua sisi mata uang yang harus dilihat sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Percuma saja meminta siswa terlibat dalam pengalaman yang luas tetapi kemudian menyuruh menunjukkan apa yang telah mereka pelajari melalui tes-tes standar yang hanya difokuskan pada wilayah verbal atau logis. Kita ketahui Tes Standar memiliki kelemahan, yakni keharusan siswa untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari sepanjang tahun melalui cara yang sangat terbatas (meminta siswa duduk di kursi, mengerjakan tes dalam waktu yang ditentukan, dan tidak berbicara kepada siapapun selama tes).

Pengukuran authentik suatu penilaian dapat menguji pemahaman siswa tentang materi pelajaran secara lebih menyeluruh dibandingkan dengan tes pilihan ganda atau soal isian. Pengukuran authentik memungkinkan siswa memperlihatkan apa yang telah mereka pelajari dalam suasananya (dalam setting yang sedapat mungkin menyerupai lingkungan tempat mereka diharapkan menunjukkan hasil proses belajar itu pada kehidupan nyata). Penilaian authentik meliputi bermacam-macam instrumen, ukuran, dan metode. Prasyarat penilaian authentic:

  • Mengobservasi cara siswa memecahkan suatu persoalan atau menciptakan suatu produk dalam konteks kehidupan nyata. 
  • Portofolio (Pendokumentasian proses belajar mengajar). Pendokumentasian tidak sebatas pada pekerjaan yang berkaitan dengan kecerdasan linguistik dan matematis-logis, namun dianjurkan portofolio diperluas pada kedelapan unsur kecerdasan. Lima manfaat dasar portofolio: 

1. Mengakui dan menghargai hasil Karya dan prestasi siswa selama satu tahun pelajaran.
2. Membantu siswa menilai sendiri hasil karya mereka (kognisi).
3. Mengkomunikasikan kemajuan proses belajar siswa kepada orang tua dan siswa sendiri.
4. Menyediakan sarana bagi sekelompok siswa sehingga dapat menghasilkan karya cipta dan mengevaluasinya secara kolektif (Kerja sama).
5. Menetapkan kriteria yang membandingkan hasil karya siswa dengan siswa lain, atau dengan titik acuan atau standar tertentu (Kompetensi).

2.4 Kualitas pelayanan.

Pengertian kualitas menurut Lukman (1999:74) adalah amengambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti keandalan, mudah dalam penggunaan. Guspersz 1997:2) mengatakan bahwa beberapa dimensi yang harus diperhatikan.

Pengertian kualitas menurut Lukman (1999:74) adalah (a) ketepatan waktu pelayanan, akurasi pelayanan., kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan. (b) tangungjawab berkaitan dengan penerimaan bersama dan pengurangan keluhan dari pelanggan. (c) kelengkapan menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan sarana pendukung serta pelayanan lainnya. (d kemudahan mendapat pelayanan, (e) Kenyamanan dalam menggerakkan pelayanan sesuai dengan persyaratan. (f) Kecocokan untuk pemakaian.

 Sejalan denga itu  kualitas Perbaikan mengandung banyak penngertian seperti berkelanjutan: bebas dari kerusakan, pemenuhan kebutuhan pelanggan sejak awal dan setiap saat, melakukan segala sesuatu secara benar.

Pengertian pelayanan menurut KBBI (1995:305) pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan. Menurut Sutopo (1999:14) pelayanan adalah suatu usaha untuk rnernbantu menyiapkan apa yang harus diperlukan orang lain. Munir (1995:57) memukakan bahwa pelayanan umumnya diartikan sebagai suatu proses untuk mencapai sasaran tertentu yang telah dilciptakan berkaitan dengan kepentingan umum. menurut keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 81 tahun 1993 menjelaskan bahwa sendi-sendi pelayanan prima : (a) kesederhanaan, (b) kejelasan dan kepastian. (c) keamanan, (d) Keterbukaan, (e) efisien, (f) ekonomis, (g) keadilan yang merata. (h) ketepatan waktu.

Sehubungan dengan hal tersebut maka yang perlu diperhatikan adalah  excelent service atau cara karya dalam melayani pelangan secara memuaskan. Secara garis besar ada 4 unsur pokok dalam pelayanan berkualitas misalnya yaitu: lebih cepat (luster), Iebih murah (cheaper), lebih baik (hener. pasti dan transparan dalam arti pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang cepat, tepat, biaya murah, pasti dan transparan. Keempat unsur pokok pelayanan berkualitas tersebut merupakan satu kesatuan pelayanan yang terintegrasi atau terpadu. yang dimaksud adalah pelayanan atau jasa tidak exccelent bila ada kemampuan yang kurang.

2.5 Partisipasi masyarakat

 Dalam partisipasi lebih dituntut keterlihatan mental dan emosional dibandingkan dengan keterlibatan secara fisik. Partisipasi keberadaannya tanpa tekanan, keterpaksaan. Dalam partisipasi timbul dorongan seseorang untuk mendukung sesuatu. tanpa keterpaksaan. Dalam partisipasi terdapat adanya dorongan untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu kegiatan. Tanggung jawab ini diberikan secara sukarela. Menurut Rogers (1969:5) bentuk tahap partisipasi yaitu;
(a) partisipasi melalui kontak dengan pihak lain sebagai salah satu titik awal peruhahan sosial.
(b) partisipasi dalam memperhatikan menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi. baik daIam arti menerima (mentaati. memenuhi. rnelaksanakan meyakinkan. menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolak.
(c) partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan ( Hofsteede 197l; Milder dan Rein,1966 : Cohen dan Uphotf.1977). Mubiarto (1984:36).
(d) partisipasi dalam menerima, memelihara dan mengembangkan hasil pembaharuan (partisipatiory  in benefits).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 3.1 Metode penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode diskriptif adalah suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu obyek tertentu dengan tujuan untuk membuat diskripsi, gambaran secara sistematis, faktual  dan akurat mengenai fakta-fakta sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki ( Nasir 2003:54 ).

 3.2   Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri 10 Padang’ Sampel diambil berdasarkan pendapat Milroy (1987) jika datanya homogen maka sampel ditetapkan paling sedikit 33 orang. Penelitian ini mengambil sampel 33 orang berdasarkan pendapat Milroy tersebut. Alasan lain adalah ketika angket didistribusikan kepada seluruh guru, maka yang dikembalikan tidak me ncapai sesuai dengan harapan peneliti.

3.3.  Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data penulis  menggunakan angket yang  merupakan suatu bentuk penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun & Effendi,1991:3).

3.4 Tehnik Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan  teknik analisis deskriptif yaitu uraian yang berupa penggambaran untuk menjelaskan jawaban-jawaban yang diberikan responden dalam angket, data-data yang diperoleh melalui wawancara dan studi pustaka digunakan sebagai data penunjang guna memperkuat dan memperdalam hasil yang diperoleh dari angket tersebut.
P=f/N x 100%
Jawaban responden tersebut disajikan dalam bentuk tabel tunggal melalui perhitungan distribusi frekuensi dan prosentasi. Untuk menghitung prosentasi jawaban yang diberikan responden, peneliti menggunakan rumus prosentasi sebagai berikut:
Keterangan:   P= Prosentasi
                         f= jumlah jawaban yang diperoleh
                         N= jumlah responden
  Dasar pedoman penafsiran data yang digunakan adalah pedoman penafsiran menurut Supardi (1979:20 ) dalam bukunya Statistik,
1%-25%                      = sebagian kecil  
26%-49%                    = hampir setengahnya
50%                             = setengahnya
51%-75%                    = sebagian besar
76%-99%                    = pada umumnya
100%                           = keseluruhan              
                   Supardi (1979:20 )
Selain itu peneliti juga menggunakan Skala Likert  sebagai pedoman. Skala Likert  merupakan  jenis skala untuk mengukur variabel penelitian fenomena sosial spesifik, seperti sikap pendapat, persepsi sosial atau sekelompok orang. ( Hasan, 2002:72 ).
Variabel  penelitian  yang diukur dengan skala Likert ini, dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan sebagai titik tolak penyusunan item-item instrumen, bisa berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen ini memiliki  gradasi dari tertinggi ( sangat positif ) sampai pada  terendah ( sangat negatif ).
Sedangkan  menurut Hasan (2002:72)  jika dinyatakan dalam  kata-kata dapat berupa :
1.      Sangat baik                                              
2.      Cukup baik
3.      Baik
4.      Kurang baik
5.      Tidak baik
Untuk keperluan analisis secara kuantitatif maka jawaban-jawaban tersebut diberi skor
1. Sangat baik/ Senang  sekali dengan skor                5
2. Cukup baik/ Senang dengan skor                            4
3. Sedang/ Cukup senang dengan skor                       3
4. Kurang baik/ Kurang senang dengan skor               2
5. Tidak baik/ Tidak senang dengan skor                    1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk multiple choice atau cecklist.

Langkah-langkahnya menurut Husein (1998 ) dalam Hasan, 2002: 73)
1. Kumpulkan sejumlah yang sesuai dengan sikap yang akan di ukur dan dapat diidentifikasikan dengan jelas positif atau negatif
2. Berikan pernyataan kepada sekelompok responden untuk diisi dengan benar
3. Responden dari setiap pernyataan dihitung dengan cara menjumlahkan angka-angka dari setiap pernyataan sedemikian rupa, sehingga respon yang berada pada posisi yang sama akan menerima secara konsisten nilai angka yang selalu sama. Misalnya, bernilai 5 untuk sangat positif dan bernilai 0 untuk yang sangat negatif. Hasil hitung akan mendapatkan skors tiap-tiap pernyataan dan skors total baik untuk tiap responden maupn secara total untuk seluruh responden.

Selanjutnya mencari pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dipakai dalam penelitian, standarnya sebagai berikut:
a.  Pernyataan yang tidak diisi lengkap oleh responden.
b.  Pernyataan yang secara totalnya, responden tidak menunjukan korelasi yang subtansial dengan nilai totalnya.

Pernyataan-pernyataan hasil saringan akhir akan membentuk skala likert yang dapat dipakai untuk mengukur skala sikap serta menjadi kuesioner untuk pengumpulan data .
dalam:

Share:

Loading...

Postingan Terkait

No comments:

Post a Comment