Contoh PTK Bahasa Indonesia: Peningkatan Kemampuan Menulis 2

   
Sebelumnya telah dibahas dari Bab I sampai Bab 3. Bila belum membaca silahkan buka:  Contoh PTK Bahasa Indonesia: Peningkatan Kemampuan Menulis bagian I...

Grafik 1: Keterampilan Menyusun Paragraf Siswa Kelas XI IPA 5
               SMAN XXXX


2. Peningkatan Keterampilan Siswa dalam Pngembangan Topik dengan Jenis Permainan Kalimat Mengalir 

a. Hasil Tes Awal Keterampilan Mengembangkan Topik
Untuk memperoleh data tentang keterampilan siswa dalam pengembangan topik, peneliti melakukan tes awal. Indikator yang diujikan ada empat, yakni penyusunan kalimat topik, keterpaduan, penggunaan bahasa, dan pemakaian ejaan dan tanda baca. Perolehan nilai keterampilan siswa dalam engembangan topik pada tes awal dapat dilihat pada lampiran, sedangkan simpulannya dapat dilihat pada tabel 6 berikut.
Tabel 6: Simpulan Ketercapaian Indikator Pengembangan Topik
pada Tes Awal Siswa Kelas XI IPA 5 SMAN XXX

Berdasarkan data pada tabel 6, diperoleh sejumlah informasi tentang tingkat ketercapaian indikator pengembangan toopik pada tes awal. Pada indikator 1 (yakni penyusunan kalimat topik) sebagian siswa sudah menyusunnya dengan baik (56,25%) dan sebagian kecil (6,25%) yang dapat menyusun dengan sangat baik. Pada indikator 2 (keterpaduan/koherensi) paragraf, lebih dari dua pertiga siswa (68,75%) kurang dapat menulis paragraf yang padu dan belum ada yang dapat menulis paragraf yang padu. Pada indikator 3 (penggunaan bahasa), sebagian besar siswa (86,46%) kurang mampu menggunakan bahasa yang baik. Sedangkan pada indikator 4 (pemakaian ejaan) sebagian siswa belum dapat memakainya secara tepat. Simpulan yang diperoleh dari data tersebut adalah umumnya siswa belum mampu mengembangkan topik paragraf dengan baik.

Selanjutnya, dari hasil tes awal keterampilan pengembangan topik juga diperoleh informasi tentang tingkat nilai keterampilan siswa per individu dan gambaran ketuntasannya. Nilai tes awal keterampilan pengembangan topik dapat dilihat pada lampiran, sedangkan simpulannya dapat dilihat pada tabel 7 berikut.

Tabel 7: Simpulan Nilai Tes Awal Keterampilan Pengembangan
Topik Siswa Kelas XI IPA 5 SMAN 1 Lubuk Sikaping 
Nilai Tertinggi
89,58
Nilai Rata-rata
60,48
Nilai Terendah
50,00
Jumlah Tuntas
2
Jumlah Tidak Tuntas
30
Persentase Tuntas
6,25%
Persentase Tidak Tuntas
93,75%

Dari data tersebut diperoleh informasi bahwa pada tes awal keterampilan pengembangan topik, nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 89,58 dan nilai terendah 50,00. Sedangkan nilai rata-rata adalah 60,48. Jumlah siswa yang tuntas 2 orang (6,25%) dan yang tidak tuntas 32 orang (93,75%).

Melihat hasil dari tes awal keterampian pengembangan topik tersebut, peneliti melakukan kegiatan permainan bahasa dengan jenis permainan kalimat mengalir untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis paragraf yang runtut, logis, dan sistematis. Namun sebelum melakukan permainan, sebagimana pada permainan nomor kalimat, siswa diminta secara silang memeriksa paragraf hasil tes awal pada keterampilan pengembangan topik.

Seperti kegiatan sebelumnya, secara silang, masing-masing siswa memeriksa hasil tes awal pengembangan topik. Siswa diminta memberikan tanggapan. Pada umumnya, siswa memberikan tanggapan bahwa kalimat-kalimat penjelas tidak padu dengan kalimat utama, tidak ‘enak’ dibaca. Akan tetapi, mereka tidak bisa memberikan penjelasan lebih detail mengapa kalimat-kalimat itu tidak padu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan paragraf hasil tes awal, ternyata masih banyak siswa yang belum terampil mengembangkan topik menjadi kalimat topik dan melengkapinya dengan kalimat-kalimat penjelas yang tepat untuk menjadi paragraf yang padu. Berikut ini contoh paragraf yang kurang padu pada tes awal pengembangan topik. Topik yang disediakan adalah ‘Kebiasaan Membaca’.
  (1) Kebiasaan membaca harus dipupuk sejak kecil. (2) Kebiasaan membaca adalah hobi seseorang untuk mencapai tujuan.(3) Hal ini supaya kita dapat memperluas pemikiran seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. (4) Dengan membaca kita dapat informasi. (5) Oleh sebab itu kita harus membiasakan membaca buku setiap hari karna membaca buku dapat menambah pengetahuan.
Berdasarkan contoh paragraf yang disusun siswa tersebut, hal-hal yang dapat ditanggapi adalah sebagai berikut.

a) Kalimat (1) sebagai kalimat utama sudah sesuai dengan topik. Namun, kalimat (2) menyatakan membaca sebagai hobi, tidak menjelaskan kalimat utama yang menyatakan bahwa kebiasaan membaca itu harus dipupuk sejak kecil. Topik ‘kebiasaan membaca’ misalnya, bisa dikembangkan dengan pola sebab-akibat. Dengan begitu kalimat kedua sebaiknya menjelaskan mengapa kebiasaan membaca itu harus dipupuk sejak kecil.

b) Kalimat-kalimat berikutnya (3,4,5) menjelaskan tujuan membaca, tidak menjelaskan kalimat utama tentang perlunya kebiasaan membaca dipupuk sejak kecil. Akibatnya paragraf ini terasa tidak padu.

c) Kalimat-kalimat yang disusun siswa juga menunjukkan bahwa siswa tersebut kurang memiliki wawasan atau informasi tentang ‘kebiasaan membaca’.

d) Ditemukan penggunaan kata yang tidak baku seperti, dapat (mendapat) dan karna (karena).

Berdasarkan hasil tes awal dan diskusi hasil pemeriksaan ulang, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam pengembangan topik perlu ditingkatkan dengan memperbaiki berbagai hal. Hal-hal yang perlu diperbaiki adalah penggunaan kalimat efektif, kepaduan paragraf, penggunaan ejaan dan tanda baca, dan penggunaan diksi yang tepat. Untuk itu, guru memberikan penjelasan bahwa dalam sebuah paragraf yang baik perlu diterapkan prinsip: kesatuan, kepaduan, dan pengembangan.

Kesatuan menunjukkan pengertian bahwa kalimat-kalimat yang ada dalam satu paragraf mendukung satu topik/tema. Topik/tema terwujud dalam kalimat utama, yang kemudian didukung oleh beberapa kalimat penjelas.

Kepaduan mengacu pada hubungan yang harmonis antarkalimat dalam paragraf. Perpindahan dari kalimat yang satu ke kalimat berikutnya mengalir secara wajar dan lancar. Hubungan antarkalimat inilah justru yang akan memudahkan pembaca memahami paragraf itu. Kehadiran sebuah kalimat dalam paragraf yang tidak mendukung secara langsung topik/tema, akan mengurangi kepaduan. Kalimat yang demikian disebut kalimat sumbang. Kalimat inilah yang disebut siswa dengan istilah ‘tidak nyambung’ pada saat memeriksa paragraf pada tes awal. Kepaduan sebuah paragraf dapat didukung oleh beberapa cara: (1) pengulangan kata-kata kunci, (2) pemakaian kata ganti tertentu (orang, milik, penunjuk) dan pemakaian kata-kata transisi (kata sambung) agar perpindahan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya mengalir dengan baik, baik kata sambung intrakalimat, antarkalimat, dan antarparagraf.

Pengembangan mengacu pada teknik penyusunan gagasan-gagasan dalam paragraf. Secara umum menulis paragraf dapat menggunakan pola urutan waktu (kronologis), urutan ruang, contoh-contoh, perbandingan, dan analogi (persamaan dua hal atau lebih).

Siswa ternyata cukup serius mendengarkan penjelasan guru. Hal ini mungkin disebabkan karena sebelumnya mereka secara langsung telah membahas paragraf-paragraf mereka dalam tes awal. Setelah pemeriksaan hasil tes awal selesai, dilakukan kegiatan permainan bahasa dengan teknik jenis permainan kalimat mengalir.

b. Nilai Proses Keterampilan Pengembangan Topik pada Siklus I dan II
Pada permainan kalimat mengalir, siswa diminta meluruskan tempat duduknya. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa siswa yang duduk satu deret ke belakang merupakan kelompok yang sama. Kemudian, guru memberikan lembar kertas yang hanya berisi topik kepada siswa yang duduk di deret depan. Siswa tersebut bertugas mengembangkan topik menjadi kalimat topik. Setelah selesai, siswa tadi menyerahkan kertas kepada siswa kedua yang duduk di belakangnya. Siswa kedua tersebut menambahkan satu kalimat penjelas. Situasi memang agak ribut karena masing-masing kelompok ingin lebih cepat menyelesaikan paragraf mereka. Beberapa siswa terdengar menggerutu karena teman yang di depannya terlalu lama membuat kalimat. Teman tersebut terlihat berpikir bagaimana membuat kalimat yang sesuai untuk menyambung kalimat teman sebelumnya. Setelah selesai, siswa tadi menyerahkan kertas kepada siswa di belakangnya, begitu seterusnya sampai kepada siswa yang duduk paling belakang. Setelah paragraf selesai, siswa terakhir tadi dengan cepat memajangkan hasil pekerjaan mereka di papan tulis.

Setelah semua kelompok siswa menyelesaikan permainan mengembangkan paragraf, guru mengajak siswa untuk menilai paragraf yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok. Penilaian dilakukan secara silang. Guru meminta dua orang perwakilan masing-masing kelompok untuk menilai secara bergiliran. Siswa melakukan penilaian sesuai dengan kriteria yang telah disepakati yaitu ketepatan membuat kalimat topik, kepaduan dalam mengembangkan topik, keefektifan bahasa, dan ketepatan penggunaan ejaan dan tanda baca. Kategori penilaiannya adalah, 4 bintang (baik sekali), 3 bintang (baik), 2 bintang (kurang), dan 1 bintang (tidak baik).

Ketika penilaian sedang berlangsung, siswa lain yang merupakan satu kelompok terlihat mencoba mempengaruhi temannya yang di depan yang sedang menilai hasil kerja kelompok lain. Kelas terdengar agak riuh karena penilaian terbuka ini. Kemudian guru menengahi dengan mengingatkan siswa agar tetap bersikap objektif dalam menilai karena penilaian yang dilakukan harus berpedoman kepada rubrik yang telah disepakati.

Insiden lain juga terjadi ketika pemeriksaan sampai pada satu kelompok yang ternyata pengembangan kalimat penjelasnya sama sekali tidak sesuai dengan topik. Topik tentang “Polusi Udara” ditafsirkan oleh kelompok tersebut dengan “Polisi Udara”. Siswa pun bersorak dengan celetukan ‘nggak nyambung ni yee’. Kelompok yang melakukan kesalahan hanya bisa tertunduk malu. Guru kemudian mencoba menengahi dan memberikan penjelasan bahwa kesalahan yang terjadi bisa dijadikan pelajaran untuk tugas berikutnya agar mereka lebih berhati-hati. Kelompok tersebut pun akhirnya mengakui bahwa mereka salah paham terhadap topik yang dimaksud.

Proses penilaian seperti ini memang sedikit gaduh. Namun, dalam situasi seperti itu siswa belajar untuk bisa mendengar pendapat orang lain dan mengakui kekurangan atau kesalahan yang dilakukan. Siswa terlihat senang karena suara mereka didengar dan pendapatnya dihargai dalam pengambilan keputusan dalam pembelajaran. Meskipun kegiatan seperti sebuah permainan, secara perlahan siswa mulai memahami bagaimana cara mengembangkan topik melalui diskusi yang mereka lakukan.

Pengamatan yang dilakukan peneliti selama penelitian berlangsung menunjukkan bahwa siswa senang dengan pelaksanaan permainan kalimat mengalir ini. Mereka memahami konsep pengembangan topik melalui permainan dan tanpa disadarinya.

Selanjutnya, berikut ini pada tabel 8 berikut ini dikemukakan simpulan nilai proses keterampilan pengembangan topik pada siklus I dan siklus II. Nilai selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

Tabel 8: Simpulan Nilai Proses Keterampilan Pengembangan Topik dengan Jenis Permainan Kalimat Mengalir Siswa Kelas XI IPA 5 SMA Negeri XXXXXX


Siklus 1
Siklus 2
Tuntas
Ya
Tidak
Nilai Tertinggi
75,00
81,00


Nilai Rata-rata
70,00
75,84


Nilai Terendah
59,00
66,00


Jumlah siswa Tuntas/tidak tuntas
28
4
Persentase (%) tuntas/tidak tuntas
87,50
12,50

Dilihat dari nilai proses keterampilan pengembangan topik, terlihat bahwa pada siklus I nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 75,00 dan nilai terendah 59,00, serta nilai rata-rata 70,00. Sedangkan pada siklus II nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 81,00 dan nilai terendah 66,00 serta nilai rata-rata 75,84.

Berdasarkan nilai proses keterampilan pengembangan topik diperoleh informasi bahwa rata-rata keterampilan siswa kelas XI IPA 5 dalam pengembangan topik meningkat bila dibandingkan dengan rata-rata tes awal. Pada tes awal, nilai rata-rata 60,48. Sedangkan pada akhir siklus I menjadi 70,00 dan akhir siklus II menjadi 75,84.

b. Aktivitas Siswa dalam Proses Pengembangan Topik
Aktivitas siswa yang diamati pada proses pengembangan topik adalah (1) partisipasi siswa dalam pembelajaran, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan (3) motivasi siswa dalam pembelajaran. Partisipasi siswa yang terlaksana pada dapat disimpulkan dalam kategori sedang (3), yaitu siswa sudah mulai berpartisipasi ketika guru memulai pelajaran, memperhatikan penjelasan guru, merespon dengan mengajukan pendapat, dan merespon instruksi guru. Keaktifan siswa yang dapat disimpulkan adalah dalam kategori sedang (3) karena memang aktivitas siswa dalam pembelajaran masih perlu ditingkatkan yaitu dalam memberikan pendapat dan menanggapi pertanyaan, membina kekompakan dalam kelompok, mempresentasikan tugas, dan merefleksikan kegiatan. Pengamatan terhadap motivasi siswa dalam siklus ini dapat disimpulkan dalam kategori baik (4). Siswa masih ada yang belum bersemangat, masih mudah terpengaruh oleh hal lain. Motivasi siswa dalam pembelajaran memang masih perlu ditingkatkan, yaitu agar siswa terlihat bersemangat, gembira, percaya diri, dan berminat dalam melakukan kegiatan. Gambaran aktivitas siswa ini dapat dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 9: Aktivitas Siswa dalam Pengembangan Topik
No
Aspek yang diamati
Pelaksanaan
Ada
1
2
3
4
5
1








2











3
Partisipasi siswa
a. Menunjukkan kesiapan dalam memulai pelajaran.
b.  Menunjukkan perhatian terhadap penjelasan guru.
c. Merespon dengan mengajukan pertanyaan.
d. Merespon dengan cepat instruksi yang diberikan guru.
Keaktifan siswa
a.    Aktif dalam mengajukan pendapat.
b.   Aktif dalam menanggapi pertanyaan.
c.    Membina kekompakan dalam kelompok.
d.   Aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
e.    Mempresentasikan tugas yang telah selesai dikerjakan.
f.    Merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan.

 Motivasi siswa
a.    Bersemangat dalam melakukan kegiatan.
b.   Gembira dalam melakukan kegiatan.
c.    Percaya diri dalam mempresentasikan hasil kegiatan.
d.   Menunjukkan minat dalam melakukan kegiatan.










































































Keterangan
5= Sangat baik       3= Sedang             1=kurang              
4= baik                  2= cukup

d. Nilai Tes Akhir Keterampilan Pengembangan Topik
Setelah siklus II selesai, peneliti melakukan tes akhir secara individu untuk mengetahui keterampilan siswa dalam pengembangan topik dengan jenis permainan kalimat mengalir. Hasil keterampilan siswa dalam pengembangan topik secara individu dapat dilihat pada lampiran, dan simpulannya dapat dilihat pada tabel 10 berikut.

Tabel 10: Simpulan Nilai Tes Akhir Keterampilan Pengembangan Topik

Siswa Kelas XI IPA 5 SMA Negeri XXXXXX


Nilai
Ket
Pemeriksa 1
Pemeriksa 2
Rata-rata
Tuntas
Tidak Tuntas
Nilai Tertinggi
98,00
98,00
98,00


Rata-rata
77,84
77,72
77,78


Nilai Terendah
57,00
56,00
57,00


Standar Deviasi
9,31
8,93
9,03


Jumlah Siswa yang Tuntas/Tidak Tuntas
26
6
Persentase (%) Ketuntasan
81,25
18,75

Simpulan dari hasil tes akhir keterampilan pengembangan topik melalui permainan kalimat mengalir menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 98,00 dan nilai terendah 57,00. Nilai rata-rata kelas adalah 77,78. Siswa yang tuntas berjumlah 26 orang (81,25%) dan siswa yang tidak tuntas berjumlah 6 orang (18,75%).

Berdasarkan nilai akhir keterampilan pengembangan topik diperoleh informasi bahwa keterampilan siswa kelas XI IPA 5 dalam pengembangan topik meningkat bila dibandingkan dengan tes awal. Pada tes awal, nilai rata-rata 60,48 dan pada tes akhir nilai rata-rata adalah 77,78. Hal ini menunjukkan bahwa permainan bahasa dengan jenis permainan kalimat mengalir dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam pengembangan topik paragraf. Berikut ini disajikan grafik hasil keterampilan siswa dalam pengembangan topik dari tes awal hingga tes akhir.

Grafik 2: Keterampilan Pengembangan Topik Siswa Kelas XI IPA 5
SMAN XXXX
dalam:

Share:

Loading...

Postingan Terkait

No comments:

Post a Comment