Perkembangan Makro Ekonomi

   
Latar belakang lahirnya ekonomi makro adalah dari upaya menjelaskan sebuah depresiasi besar-besaran yang terjadi di tahun 1930-an di Amerika Serikat. Disiplin ilmu Ekonomi makro tumbu dan berkembang dengan mengkaji permasalahan baru dalam bidang ekonomi dan berusaha untuk mencari jalan keluar dari setiap permasalahan tersebut.
Perkembangan Makro Ekonomi
Pada tahun 1960-an akhir, pemerintah Amerika Serikat dinyatakan mampu mengatur perekonomian dengan baik. Namun kembali di tahun 1970-an, kinerja perekonomian di Amerika serikat jatuh lagi sehingga berada pada titik buruk kembali.

Sebelum terjadinya depresiasi besar, ahli ekonomi cenderung menerapkan model perekonomian mikro. Sederhananya ini disebut dengan market-cleaning atau model perekonomian klasik dengan permasalah yang sangat luas.

Pengertian market cleaning di sini adalah dimana 'pasar bersih'. Maknanya, jumlah permintaah sama dengan jumlah penawaran. Sementara model ekonomi klasik dijelaskan sebagai bentuk penekanan pada permasalahan ekonomi dimana harga dan upah selalu menyesuaikan sampai terbentuk sebuah kesetimbangan. Model ekonomi mikro ini tidak bisa bertahan, karena adanya kondisi yang menguncang dunia di tahun 1930-an, Perang Dunia.

Karena permasalahn inilah, dibutuhkan sebuah terobosan baru dalam mengatasi permasalah masalah masalah ekonomi. Itulah lahir, ekonomi makro.

Penggunaan teori ekonomi klasik yang dirasa kurang relevan bisa dicontohkan sebagai berikut. Analisis permintaan dan penawaran. Andai kata penawaran tenaga kerja berlebih, maka upah akan turun sampai terbentuk titik kesetimbangan (equilibrium). Ini diyakini para ahli ekonomi bahwa resesi tersebut bisa membawa perbaikan dari ketidakseimbangan yang terjadi.

Namun, keyakinan tersebut salah. 10 tahun berselang setelah depresiasi besar-besaran tersebut, jumlah pengganguran masih saja tinggi.

Kegagalan tersebut, menjadi titik awal munculnya Revolusi Keynes. Revolusi Keynes ini yang secara besar mempengaruhi lahirnya Keynes.

Keynes membuat pernyataan yang menentang model ekonomi klasik. Dalam pandangan Keynes, bukan upah dan harga yang menjadi faktor penentuu peluang kerja. Peluang kerja dipengaruhi oleh permintaan total terhadap barang dan jasa.

Keynes juga berasumsi pemerintah bisa saja ikut andil dalam perekonomin dalam memberikan dorongan terhadap output dan peluang kerja serta menjadi perangsang permintaan ketika permintaan dari pihak swasta rendah. Dengan peran tersebut, maka perekonomian bisa tetap stabil dan melewati masa masa resesi.

Pasca perang dunia ke 2. Pemikiran Keynes tampaknya diterima baik oleh ahli ekonomi dan pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan. Pemerintah dengan kekuasaannya ikut serta dalam mencapai titik sasar peluang kerja dan mengangkat titik output pada level tertentu.

Dengan demikian, bisa disimpulkan tujuan eksplisit dari perekonomian klasik ini bisa menjadi variabel yang mengontrol tingkat perekonomian dalam keadaan yang sulit.
dalam:

Share:

Loading...

Postingan Terkait

No comments:

Post a Comment