Agar pembinaan dan pengembangan kreativitas siswa dalam kegaitan belajar mengajar lebih berhasil maka perlu di anut cara belajar siswa aktif (Suryo Subroto, 1990 hal, 20). Disamping itu menurut Herman Hudoyono (1977, Hal.194) mengungkapkan bahwa : suatu ciri khas dalam pendidikan modern saat ini adalah hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa dalam pembelajaran. Lanjutkan Membaca
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Hakikat Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran.
Kata “media” berasal dari Bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari “Medium“, yang berasal dari Bahasa Indonesia. Kata “Medium”, dapat diartikan sebagai “Perantara” atau ”Pengantar”.Beberapa pendapat tentang media pembelajaran:Lanjutkan Membaca
Metoda Diskusi Kelompok dalam Pembelajaran
Belajar aktif adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktifitas belajar siswa. Belajar aktif perlu digunakan untuk lebih mengembangkan potensi-potensi belajar siswa, karena siswa terlibat secara langsung. Belajar aktif di desain untuk menghidupkan kelas, kegiatan belajar yang menyenangkan dan meningkatkan keterlibatan fisik. Keterlibatan secara fisik ini meningkatkan partisipasi yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa (Sriyono 1982: 19)
Salah satu metode pembelajaran yang Lanjutkan Membaca
Salah satu metode pembelajaran yang Lanjutkan Membaca
Contoh PTK PKn: Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui...
Judul PTK: Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui
Media Gambar dan Diskusi Kelompok Pada Mata Pelajaran PKn (Pokok Bahasan Sistem Politik Indonesia) di xxxx
Media Gambar dan Diskusi Kelompok Pada Mata Pelajaran PKn (Pokok Bahasan Sistem Politik Indonesia) di xxxx
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu program pembangunan nasional, yang erat sekali hubungannya dengan pengembangan sumber daya manusia. Salah satu usaha dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan meningkatkan proses belajar mengajar melalui penggunaan media yang relevan dengan materi ajar. Lanjutkan Membaca
Bahasan Tentang Aktivitas Belajar
Aktivitas adalah keaktifan; kegiatan; kesibukan (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 17). Aktivitas belajar adalah segala bentuk atau kegiatan untuk melakukan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini aktivitas belajar yang akan diamati oleh guru ataupun observer adalah:
1. Aktif dalam diskusi kelompok dalam timnya
2. Aktif berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan dalam menyelesaikan soal, tidak hanya Lanjutkan Membaca
Belajar dan Prestasi Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan untuk mengembangkan potensi diri seseorang. Proses belajar diperlukan untuk dapat mengembangkan kemampuan seseorang secara optimal.
Teori belajar yang dikemukakan oleh Bruner (1977: 48) menyatakan bahwa proses belajar pada diri seseorang mengandung tiga proses simultan. Pertama, proses untuk mendapatkan perolehan (akuisisi) sesuatu dari informasi baru. Hal yang diperoleh dari informasi baru sering merupakan pengganti atau perbaikan atas pengetahuan sebelumnya.
Kedua, Lanjutkan Membaca
Teori belajar yang dikemukakan oleh Bruner (1977: 48) menyatakan bahwa proses belajar pada diri seseorang mengandung tiga proses simultan. Pertama, proses untuk mendapatkan perolehan (akuisisi) sesuatu dari informasi baru. Hal yang diperoleh dari informasi baru sering merupakan pengganti atau perbaikan atas pengetahuan sebelumnya.
Kedua, Lanjutkan Membaca
Pengertian dan Macam Macam Landasan Pendidikan
Sebelum kita membicarakan tentang landasan-landasan pendidikan yang dianut oleh suatu bangsa, maka terlebih dahulu kita harus mempunyai kesatuan pendapat tentang arti landasan pendidikan. Landasan pendidikan merupakan norma dasar pendidikan yang bersifat imperatif; artinya mengikat dan mengharuskan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan untuk setia melaksanakan dan mengembangkan berdasarkan landasan pendidikan yang dianut.
Landasan Filosofis Pendidikan
Ada aliran utama filsafat di dunia sampai Lanjutkan membaca
Metode Cooperative Learning tipe STAD
Menurut Nurhadi (2004:102-103) pembelajaran yang relevan dengan misi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diantaranya adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu, manusia dapat saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan). Lanjutkan Membaca
Hakikat Hasil Belajar
Pengertian hasil belajar adalah ,Hasil belajar merupakan suatu yang dicapai seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran, dengan kata lain hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar adalah perubahan secara menyeluruh terhadap tingkah laku yang ada pada diri individu. Hasil belajar mencakup ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.
Menurut Bloom Lanjutkan Membaca
Menurut Bloom Lanjutkan Membaca
Aktivitas Belajar Siswa
Aktivitas belajar adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajaran, misalnya dalam kegiatan audiovisual, menulis, menggambar, kegiatan mental dan emosional (Hamalik, 2003 dalam Asbullah, 2005: 9). Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah apabila peserta didik giat aktif dengan anggota badannya, bermain atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Peserta didik yang emmiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran.
Teori Motivasi Belajar
Dalam kaitannya dengan motivasi, Maslow menyusun suatu teori tentang kebutuhan manusia yang bersifat hierarkis dan dikelompokkan menjadi lima tingkat yaitu physiological, safety needs, belongingnees and love needs, esteem needs, and need for self actualization (Maslow, 1970 dalam Mulyasa, 2008 : 198) Lanjutkan Membaca
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pendekatan Kontekstual ( CTL ) adalah merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Lanjutkan Membaca
Hakikat Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.Pengertian Belajar Menurut Slameto (1995; 2) mengatakan bahwa: Baca Selengkapnya
Bimbingan Kelompok dalam Pembelajaran
Bimbingan Kelompok merupakan layanan bimbingan yang dilaksanakan delam suaana kelompok untuk mengentaskan suatu masalah yang sama dan anggota kelompok dalam suasana dinamika kelompok yang dinamis. Meurut Prtayitno ( 1995, 23 )
” Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok artinya merupakan pengarahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok ”
Bimbingan kelompok terdiri dari dua bentuk kegiatan yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas, Meunurut Prayitno (1995: 24) : dalam pelaksanaan kelompok melalui pendekatan kelompok ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas .
Bimbingan kelompok dilaksanakan melalui empat tahap kegiatan yaitu :
a. Tahap pembentukan, yaitu tahapan untuk membentuk kerumunan sejumlah individu menjadi satu kelompok yang siap mengembangkan dinamika kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
b. Tahap peralihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal kelompok kekegiatan berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok.
c. Tahap kegiatan, yaitu tahapan ”kegiatan inti” untuk membahas topik-topik tertentu pada bimbingan kelompok atau mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok pada Konseling Kelompok.
d. Tahap pengakhiran, yaitu tahapan akhir kegiatan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh kelompok, serta merencanakan kegiatan selajutnya.
” Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok artinya merupakan pengarahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok ”
Bimbingan kelompok terdiri dari dua bentuk kegiatan yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas, Meunurut Prayitno (1995: 24) : dalam pelaksanaan kelompok melalui pendekatan kelompok ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas .
Bimbingan kelompok dilaksanakan melalui empat tahap kegiatan yaitu :
a. Tahap pembentukan, yaitu tahapan untuk membentuk kerumunan sejumlah individu menjadi satu kelompok yang siap mengembangkan dinamika kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
b. Tahap peralihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal kelompok kekegiatan berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok.
c. Tahap kegiatan, yaitu tahapan ”kegiatan inti” untuk membahas topik-topik tertentu pada bimbingan kelompok atau mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok pada Konseling Kelompok.
d. Tahap pengakhiran, yaitu tahapan akhir kegiatan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh kelompok, serta merencanakan kegiatan selajutnya.
Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme
Rut Betten court dan Suparno (1996, hal. 18)
” Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep, dan struktur kognitif yang diperlukan untuk pengetahuan ”.
Para konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Lorsbart dan Tobbin dalam Suparno (1996, hal. 19) bahwa, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) kepada orang lain (siswa). Murid sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dan menyesuaikan dengan pegalaman-pengalaman mereka.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan seseorang tidak sekali jadi, tetapi melalui proses perkembangan yang terus menerus. Konstruktivisme berbeda dengan aliran-aliran pendidikan lainnya. Konstruktivisme menurut Kosnot dalam Pannen (2001, hal. 18) lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif siswa. Bila seseorang tidak mengkonstruksikan pengetahuannya secara aktif, meskipun mereka berumur tua, pengetahuannya tidak akan berkembang. Pada pendekatan pembelajaran ini guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan mediator kepada siswa untuk terus aktif selama pembelajaran.
Menurut Driver dan Oldhom dalam Suparno (1996, hal. 69) ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah :
Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk menkonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok.
Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman.
Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Kalau dimungkinkan ada baiknya bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan satu percobaan atau persoalan yang baru.
Penggunaan ide dalam situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap dan bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualian.
Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya dengan menambahkan suatu keterangan atau dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap.
1) fase identifikasi indicator dari kurikulum oleh guru,
2) fase mengakses pengetahuan terdahulu yang dimiliki siswa tujuannya untuk mengecek apa saja yang sudah diketahui para siswa,
3) fase eksplorasi, tujuannya untuk mengecek apakah pengetahuan yang dimiliki siswa benar, separuh benar, atau salah,
4) fase penjelasan, dalam fase ini guru memberikan kesempatan agar siswa menghubungkan pemahaman baru dengan konsep terdahulu,
5) fase elaborasi, dalam fase ini guru memberikan kesempatan agar para siswa guru memberikan kesempatan agar para siswa menerapkan pemahaman baru pada konteks yang berbeda, dan
6) Fase evaluasi, adalah fase untuk menilai perubahan dalam situasi baru.
Dalam menggunakan daur belajar konstruktivisme ini diharapkan guru dapat menjalankan peranannya sebagai fasilitator dan mediator.
” Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang. Seseorang membentuk skema, kategori, konsep, dan struktur kognitif yang diperlukan untuk pengetahuan ”.
Para konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Lorsbart dan Tobbin dalam Suparno (1996, hal. 19) bahwa, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) kepada orang lain (siswa). Murid sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dan menyesuaikan dengan pegalaman-pengalaman mereka.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan seseorang tidak sekali jadi, tetapi melalui proses perkembangan yang terus menerus. Konstruktivisme berbeda dengan aliran-aliran pendidikan lainnya. Konstruktivisme menurut Kosnot dalam Pannen (2001, hal. 18) lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif siswa. Bila seseorang tidak mengkonstruksikan pengetahuannya secara aktif, meskipun mereka berumur tua, pengetahuannya tidak akan berkembang. Pada pendekatan pembelajaran ini guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan mediator kepada siswa untuk terus aktif selama pembelajaran.
Menurut Driver dan Oldhom dalam Suparno (1996, hal. 69) ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah :
- Orientasi, murid diberi untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik
- Elicitasi, murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, gambar dan lain-lain.
- Rekonstruksi Ide, yaitu terdiri dari :
Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk menkonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok.
Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman.
Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Kalau dimungkinkan ada baiknya bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan satu percobaan atau persoalan yang baru.
Penggunaan ide dalam situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap dan bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualian.
Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya dengan menambahkan suatu keterangan atau dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap.
Dasar Belajar Konstruktivisme
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam model pembelajaran konstruktivisme adalah daur belajar konstruktivisme. Daur belajar konstruktivisme inik dicontoh oleh Jonshon (Iskandar : 2001). Menurut ”prinsiple of constructivis learning” ada 6 fase Daur belajar yaitu :1) fase identifikasi indicator dari kurikulum oleh guru,
2) fase mengakses pengetahuan terdahulu yang dimiliki siswa tujuannya untuk mengecek apa saja yang sudah diketahui para siswa,
3) fase eksplorasi, tujuannya untuk mengecek apakah pengetahuan yang dimiliki siswa benar, separuh benar, atau salah,
4) fase penjelasan, dalam fase ini guru memberikan kesempatan agar siswa menghubungkan pemahaman baru dengan konsep terdahulu,
5) fase elaborasi, dalam fase ini guru memberikan kesempatan agar para siswa guru memberikan kesempatan agar para siswa menerapkan pemahaman baru pada konteks yang berbeda, dan
6) Fase evaluasi, adalah fase untuk menilai perubahan dalam situasi baru.
Dalam menggunakan daur belajar konstruktivisme ini diharapkan guru dapat menjalankan peranannya sebagai fasilitator dan mediator.
Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
- pendekatan pembelajaran,
- strategi pembelajaran,
- metode pembelajaran;
- teknik pembelajaran;
- taktik pembelajaran;
- model pembelajaran.
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
- Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
- Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
- Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
- Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
- Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
- Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
- Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
- Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
Subscribe to:
Posts (Atom)













