Permainan belajar akan mendatangkan sejumlah manfaat. Menurut Suyatno (2005), setidaknya ada tujuh manfaat permainan belajar jika dimanfaatkan secara bijaksana. Permainan belajar dapat menyingkirkan “keseriusan” yang menghambat, menghilangkan stres dalam lingkungan belajar, mengajak orang terlibat penuh, meningkatkan proses belajar, membangun kreativitas diri, mencapai tujuan dengan ketidaksadaran, meraih makna belajar melalui pengalaman, dan Lanjutkan Membaca
Showing posts with label bahasa indonesia. Show all posts
Showing posts with label bahasa indonesia. Show all posts
Hakikat Permainan dalam Pembelajaran Bahasa
Perrmainan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Permainan dilakukan untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan. Orang yang sedang bermain bukan saja dapat menikmati permainan itu, melainkan juga memperoleh sejumlah pengalaman belajar (pengetahuan, sikap, dan keterampilan). |Lanjutkan Membaca
Jenis-Jenis Permainan Bahasa
Suyatno (2005) membagi permainan bahasa dengan jenis yang beragam dan disesuaikan dengan tingkat usia siswa. Permainan bahasa yang dimaksud adalah permainan ejaan, permainan kosakata, permainan kalimat, permainan menyimak, permainan berbicara, permainan menulis, dan permainan sastra.
Jenis atau bentuk permainan bahasa yang beragam memungkinkan guru menggunakan teknik yang bervariasi dalam pembelajaran bahasa pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini disebabkan teknik permainan dapat menghilangkan kejenuhan, kebekuan, dan stres para siswa.
Pembelajaran menulis yang disajikan melalui permainan bertujuan agar siswa mampu lancar menulis dalam susana riang gembira tanpa tekanan yang pada gilirannya diharapkan motivasi dan kebiasaan menulis terbentuk dalam diri siswa. Setelah motivasi atau kegairahan menulis muncul pada diri siswa barulah siswa diajak secara bersama-sama memperbaiki tulisan mereka dari segi ketepatan ejaan, tanda baca, struktur dan sebagainya.
Pada penelitian ini akan diterapkan permainan bahasa dengan jenis permainan kalimat mengalir. Berikut ini dikemukakan uraian teoretis jenis permainan tersebut.
Ada enam langkah dalam menerapkan jenis permainan ini. Pertama, guru memberikan pengantar tentang kegiatan yang dilakukan siswa. Kedua,siswa menerima lembar fotokopi. Ketiga, guru memberikan aba-aba tanda dimulai kegiatan penomoran kalimat dengan angka satu sebagai tanda kalimat tersebut berada di posisi pertama dalam paragraf (sebagai kalimat topik). Keempat, siswa melanjutkan penomoran pada kalimat lain berdasarkan waktu yang ditetapkan. Kelima, setelah waktu habis, hasil kerja siswa dikumpulkan dan dikoreksi bersama. Keenam, guru memberikan penilaian berdasarkan kunci jawaban dan hasil penilaian disampaikan kepada siswa.
Jenis permainan nomor kalimat tersebut pada prinsipnya merupakan suatu permainan untuk melatih dan membimbing siswa memahami topik, kalimat topik, dan keterkaitan antarkalimat dalam paragraf. Memang dalam permainan nomor kalimat tersebut kegiatan menulis belum dilakukan, tetapi permaian ini akan membekali siswa tentang syarat dan wujud suatu paragraf yang baik.
Sebelum permainan ini dijalankan, guru perlu menyiapkan beberapa hal. Pertama, guru membuat topik atau kalimat topik yang akan dikembangkan siswa menjadi kalimat-kalimat berikutnya. Kedua, guru memberikan penjelasan tentang cara mengembangkan topik paragraf dengan teknik kalimat mengalir. Selanjutnya, guru meluruskan tempat duduk siswa sebagai tanda bahwa siswa yang duduk satu deret ke belakang merupakan kelompok yang sama dan mengecek kesiapan siswa dalam melakukan kegiatan mengembangkan topik paragraf dengan permainan kalimat mengalir.
Kegiatan dilakukan dalam dua versi. Versi pertama, guru memberikan lembar kertas yang hanya berisi topik kepada siswa yang duduk di deret depan. Siswa tersebut mengembangkan topik tersebut menjadi kalimat topik. Setelah selesai, siswa yang duduk di deret depan memberikan lembar kertas itu kepada siswa kedua yang duduk di belakangnya. Siswa kedua menambahkan satu kalimat penjelas. Setelah selesai, lembar kertas itu diserahkan kepada siswa ketiga untuk ditambahkan satu kalimat penjelas. Begitu seterusnya sampai pada siswa yang duduk di deret belakang. Setelah selesai semua kelompok, hasil kerja dipampangkan. Selanjutnya, satu orang perwakilan kelompok memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain. Selanjutnya dilakukan diskusi kelas.
Pada versi kedua, guru memberikan lembar kertas yang telah berisi kalimat topik kepada siswa yang duduk di deret depan. Siswa tersebut menambahkan satu kalimat penjelas berdasarkan kalimat topik yang telah ada. Setelah selesai, siswa yang duduk di deret depan memberikan lembar kertas itu kepada siswa kedua yang duduk di belakangnya. Siswa kedua menambahkan satu kalimat penjelas lainnya. Setelah selesai, lembar kertas itu diserahkan kepada siswa ketiga untuk ditambahkan satu kalimat penjelas berikutnya. Begitu seterusnya sampai pada siswa yang duduk di deret belakang. Setelah selesai semua kelompok, hasil kerja dipampangkan. Selanjutnya, satu orang perwakilan kelompok memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain. Selanjutnya dilakukan diskusi kelas.
Permainan kalimat mengalir ini diyakini dapat meningkatkan motivasi dan keterampilan siswa dalam mengembangkan topik paragraf. Bahkan, dengan permainan kalimat mengalir ini siswa yang biasanya pasif akan aktif karena semua siswa terlibat dalam menulis kalimat. Kelas memang akan tampak ramai, tetapi keramaian itu bertujuan. Pada akhir kegiatan, guru melakukan refleksi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan indikator permainan bahasa dengan teknik nomor kalimat dan kalimat mengalir. Indikator permainan bahasa dengan teknik nomor kalimat adalah 1) ketepatan penentuan kalimat topik dan 2) ketepatan penataan kalimat. Indikator permainan bahasa dengan teknik kalimat mengalir adalah: 1) ketepatan penyusunan kalimat topik, 2) keterpaduank, 3) ketepatan penggunaan bahasa, dan 4) ketepatan pemakaian ejaan dan tanda baca. Terkait: Manfaat Permainan Belajar dan Syarat Keberhasilan Permainan Bahasa
Jenis atau bentuk permainan bahasa yang beragam memungkinkan guru menggunakan teknik yang bervariasi dalam pembelajaran bahasa pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini disebabkan teknik permainan dapat menghilangkan kejenuhan, kebekuan, dan stres para siswa.
Pembelajaran menulis yang disajikan melalui permainan bertujuan agar siswa mampu lancar menulis dalam susana riang gembira tanpa tekanan yang pada gilirannya diharapkan motivasi dan kebiasaan menulis terbentuk dalam diri siswa. Setelah motivasi atau kegairahan menulis muncul pada diri siswa barulah siswa diajak secara bersama-sama memperbaiki tulisan mereka dari segi ketepatan ejaan, tanda baca, struktur dan sebagainya.
Pada penelitian ini akan diterapkan permainan bahasa dengan jenis permainan kalimat mengalir. Berikut ini dikemukakan uraian teoretis jenis permainan tersebut.
1) Permainan Nomor Kalimat
Suyatno (2004) menyatakan bahwa jenis permainan nomor kalimat adalah suatu jenis permainan yang meminta siswa menulis paragraf secara runtut, logis, dan sistematis. Alat yang dibutuhkan adalah lembar fotokopi yang berisi paragraf dengan kalimat-kalimat yang susunannya masih acak, tidak logis, tidak urut, dan masih kacau. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara perseorangan maupun kelompok.Ada enam langkah dalam menerapkan jenis permainan ini. Pertama, guru memberikan pengantar tentang kegiatan yang dilakukan siswa. Kedua,siswa menerima lembar fotokopi. Ketiga, guru memberikan aba-aba tanda dimulai kegiatan penomoran kalimat dengan angka satu sebagai tanda kalimat tersebut berada di posisi pertama dalam paragraf (sebagai kalimat topik). Keempat, siswa melanjutkan penomoran pada kalimat lain berdasarkan waktu yang ditetapkan. Kelima, setelah waktu habis, hasil kerja siswa dikumpulkan dan dikoreksi bersama. Keenam, guru memberikan penilaian berdasarkan kunci jawaban dan hasil penilaian disampaikan kepada siswa.
Jenis permainan nomor kalimat tersebut pada prinsipnya merupakan suatu permainan untuk melatih dan membimbing siswa memahami topik, kalimat topik, dan keterkaitan antarkalimat dalam paragraf. Memang dalam permainan nomor kalimat tersebut kegiatan menulis belum dilakukan, tetapi permaian ini akan membekali siswa tentang syarat dan wujud suatu paragraf yang baik.
2) Permainan Kalimat Mengalir
Jenis permainan kalimat mengalir merupakan suatu permainan alternatif yang diyakini mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam mengembangkan topik paragraf. Menurut Suyatno (2004), dengan permainan kalimat mengalir siswa mendapatkan gambaran paragraf yang baik dan tidak baik melalui perangkaian kalimat demi kalimat yang dihasilkan oleh setiap individu dalam kelompok. Dalam permainan ini siswa mengembangkan topik paragraf secara berantai berdasarkan kalimat utama yang disediakan oleh guru. Karena disajikan lewat permainan maka kegiatan ini dikemas dalam bentuk perlombaan agar lebih menantang dan menggembirakan.Sebelum permainan ini dijalankan, guru perlu menyiapkan beberapa hal. Pertama, guru membuat topik atau kalimat topik yang akan dikembangkan siswa menjadi kalimat-kalimat berikutnya. Kedua, guru memberikan penjelasan tentang cara mengembangkan topik paragraf dengan teknik kalimat mengalir. Selanjutnya, guru meluruskan tempat duduk siswa sebagai tanda bahwa siswa yang duduk satu deret ke belakang merupakan kelompok yang sama dan mengecek kesiapan siswa dalam melakukan kegiatan mengembangkan topik paragraf dengan permainan kalimat mengalir.
Kegiatan dilakukan dalam dua versi. Versi pertama, guru memberikan lembar kertas yang hanya berisi topik kepada siswa yang duduk di deret depan. Siswa tersebut mengembangkan topik tersebut menjadi kalimat topik. Setelah selesai, siswa yang duduk di deret depan memberikan lembar kertas itu kepada siswa kedua yang duduk di belakangnya. Siswa kedua menambahkan satu kalimat penjelas. Setelah selesai, lembar kertas itu diserahkan kepada siswa ketiga untuk ditambahkan satu kalimat penjelas. Begitu seterusnya sampai pada siswa yang duduk di deret belakang. Setelah selesai semua kelompok, hasil kerja dipampangkan. Selanjutnya, satu orang perwakilan kelompok memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain. Selanjutnya dilakukan diskusi kelas.
Pada versi kedua, guru memberikan lembar kertas yang telah berisi kalimat topik kepada siswa yang duduk di deret depan. Siswa tersebut menambahkan satu kalimat penjelas berdasarkan kalimat topik yang telah ada. Setelah selesai, siswa yang duduk di deret depan memberikan lembar kertas itu kepada siswa kedua yang duduk di belakangnya. Siswa kedua menambahkan satu kalimat penjelas lainnya. Setelah selesai, lembar kertas itu diserahkan kepada siswa ketiga untuk ditambahkan satu kalimat penjelas berikutnya. Begitu seterusnya sampai pada siswa yang duduk di deret belakang. Setelah selesai semua kelompok, hasil kerja dipampangkan. Selanjutnya, satu orang perwakilan kelompok memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain. Selanjutnya dilakukan diskusi kelas.
Permainan kalimat mengalir ini diyakini dapat meningkatkan motivasi dan keterampilan siswa dalam mengembangkan topik paragraf. Bahkan, dengan permainan kalimat mengalir ini siswa yang biasanya pasif akan aktif karena semua siswa terlibat dalam menulis kalimat. Kelas memang akan tampak ramai, tetapi keramaian itu bertujuan. Pada akhir kegiatan, guru melakukan refleksi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan indikator permainan bahasa dengan teknik nomor kalimat dan kalimat mengalir. Indikator permainan bahasa dengan teknik nomor kalimat adalah 1) ketepatan penentuan kalimat topik dan 2) ketepatan penataan kalimat. Indikator permainan bahasa dengan teknik kalimat mengalir adalah: 1) ketepatan penyusunan kalimat topik, 2) keterpaduank, 3) ketepatan penggunaan bahasa, dan 4) ketepatan pemakaian ejaan dan tanda baca. Terkait: Manfaat Permainan Belajar dan Syarat Keberhasilan Permainan Bahasa
Pembentukan dan Penulisan Paragraf
Keraf (1980) menyatakan bahwa alinea (paragraf) yang baik dan efektif harus memenuhi tiga syarat. Ketiga syarat tersebut adalah kesatuan, koherensi, dan perkembangan alinea. Kesatuan berarti semua kalimat yang membentuk alinea itu secara bersama-sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu. Koherensi berarti kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea itu. Perkembangan alinea berarti bagaimana penyusunan atau perincian gagasan-gagasan yang membina alinea itu.
Selanjutnya, Moeliono (2003) menyatakan bahwa paragraf yang berhasil tidak hanya lengkap karena pengembangannya, tetapi juga karena menunjukkan kesatuan dalam isinya. Kesatuan (unity) dapat dicapai apabila hanya mengembangkan satu gagasan pokok saja. Maksudnya, setiap kalimat di dalam paragraf bertalian dengan ide pokok. Sebaliknya, keutuhan paragraf akan rusak jika ada penyisipan rincian yang tidak bertalian, pemasukan kalimat topik yang kedua, atau gagasan pokok lain ke dalam paragraf itu.
Penulisan sebuah paragraf terkait dengan metode penalaran. Dalam hal ini, Moeliono (2003) menjelaskan bahwa dalam paragraf yang bercorak penalaran induktif kalimat tumpuannya (topic sentence) biasanya berupa generalisasi induktif. Paragraf itu kemudian dikembangkan dengan hal yang khusus untuk menunjang perumusan itu. Dalam penalaran yang deduktif kalimat tumpuannya biasanya suatu gagasan yang berupa simpulan silogisme, baik yang dinyatakan dengan eksplisit maupun dengan implisit.
Pendapat yang sama dikemukakan Atmazaki (2006) yang menyatakan bahwa berdasarkan metode berpikir terdapat dua pola dalam penulisan paragraf. Pola yang pertama adalah deduktif; yakni metode berpikir yang bertolak dari proses penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang bersifat umum untuk dijelaskan secara khusus. Pola yang kedua adalah induktif; yakni proses penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan-keadaan yang bersifat khusus untuk dikristalisasi secara umum.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pembentukan dan menulis paragraf harus mengandung unsur kesatuan, kepaduan (koherensi), dan kelengkapan. Selain itu, pembentukan dan penulisan paragraf hendaknya mencerminkan suatu pola penalaran, secara deduktif atau induktif. Melalui pola penalaran itulah, gagasan utama dan gagasan penjelas ditata dalam kalimat yang saling berkaitan. Hal ini dapat dilakukan dari gagasan umum ke gagasan khusus (deduktif) atau dari gagasan khusus ke gagasan umum (induktif). Syarat lainnya adalah pemakaian bahasa hendaklah efektif.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu paragraf yang baik hendaknya memenuhi lima indikator. Indikator tersebut adalah 1) memuat satu topik, 2) terdapat kalimat utama yang di dalamnya ada topik, 3) kalimat penjelas/pendukung berkaitan dengan topik, 4) adanya koherensi paragraf.
![]() |
| Penyegaran Mata dulu hehehe |
Penulisan sebuah paragraf terkait dengan metode penalaran. Dalam hal ini, Moeliono (2003) menjelaskan bahwa dalam paragraf yang bercorak penalaran induktif kalimat tumpuannya (topic sentence) biasanya berupa generalisasi induktif. Paragraf itu kemudian dikembangkan dengan hal yang khusus untuk menunjang perumusan itu. Dalam penalaran yang deduktif kalimat tumpuannya biasanya suatu gagasan yang berupa simpulan silogisme, baik yang dinyatakan dengan eksplisit maupun dengan implisit.
Pendapat yang sama dikemukakan Atmazaki (2006) yang menyatakan bahwa berdasarkan metode berpikir terdapat dua pola dalam penulisan paragraf. Pola yang pertama adalah deduktif; yakni metode berpikir yang bertolak dari proses penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yang bersifat umum untuk dijelaskan secara khusus. Pola yang kedua adalah induktif; yakni proses penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan-keadaan yang bersifat khusus untuk dikristalisasi secara umum.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pembentukan dan menulis paragraf harus mengandung unsur kesatuan, kepaduan (koherensi), dan kelengkapan. Selain itu, pembentukan dan penulisan paragraf hendaknya mencerminkan suatu pola penalaran, secara deduktif atau induktif. Melalui pola penalaran itulah, gagasan utama dan gagasan penjelas ditata dalam kalimat yang saling berkaitan. Hal ini dapat dilakukan dari gagasan umum ke gagasan khusus (deduktif) atau dari gagasan khusus ke gagasan umum (induktif). Syarat lainnya adalah pemakaian bahasa hendaklah efektif.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu paragraf yang baik hendaknya memenuhi lima indikator. Indikator tersebut adalah 1) memuat satu topik, 2) terdapat kalimat utama yang di dalamnya ada topik, 3) kalimat penjelas/pendukung berkaitan dengan topik, 4) adanya koherensi paragraf.
Hakikat dan Jenis Jenis Paragraf
Hakikat Paragraf
Ada beberapa pengertian tentang paragraf. Keraf (1980) menyatakan bahwa alinea (paragraf) pada prinsipnya merupakan satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Selanjutnya, Kridalaksana (1984) menyatakan bahwa paragraf merupakan satuan bahasa yang mengandung satu tema perkembangannya. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Parera (1984), yakni paragraf merupakan satu model karangan yang terkecil. Dengan demikian, paragraf menjadi unit dasar wacana yang berisi informasi dalam suatu paket yang terorganisir secara jelas dan saling terkait.Akhadiah, dkk. (1991) menjelaskan bahwa dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas sampai kepada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Jadi, paragraf merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Di dalam sebuah paragraf, biasanya terdapat sebuah kalimat yang berisi topik sentral dan kalimat-kalimat lain yang berisi penjelasan terhadap topik sentral itu (Atmazaki, 2006). Artinya, sebuah paragraf yang baik hanya memiliki satu topik yang ditempatkan dalam kalimat topik, sedangkan kalimat-kalimat lain dalam paragraf itu menjelaskan topik.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang paragraf tersebut dapat dipahami bahwa pada hakikatnya paragraf merupakan seperangkat kalimat yang berhubungan untuk membentuk suatu topik. Hal ini berarti bahwa jumlah kalimat dalam satu paragraf bersifat relatif.. Yang harus diperhatikan adalah semua kalimat yang terdapat dalam satu paragraf hendaklah membahas topik yang sama atau berkaitan erat dengan topik paragraf tersebut.
b. Jenis-Jenis Paragraf
Moeliono (2003) membedakan paragraf atas empat jenis, yakni eskposisi, argumentasi, narasi, dan deskripsi. Tujuan utama eksposisi ialah pemberian informasi secara lengkap dan wajar. Karena itu, jenis paparan yang baik adalah yang pemakaian bahasanya jernih, ringkas dan lugas. Bahasa argumentatif dapat didengar dan dibaca dalam perdebatan dan karangan. Karena di dalam argumentasi terikat pada argumen atau alasan pendapat, harus dijaga agar penalaran tidak lepas kendali pada saat mengajukan pendapat. Maksud narasi adalah membuat cerita; mengisahkan secara berturut-turut suatu rangkaian peristiwa. Lewat perian atau deskripsi penyusun bermaksud agar khalayaknya dapat ikut melihat, mendengar atau merasa apa yang dilihat, didengar atau dirasa penulis.Menurut Atmazaki (2006), paragraf dapat dibagi atas empat jenis yaitu deskripsi, narasi, eksposisi, dan argumentasi. Paragraf deskriptif merupakan paragraf yang isinya melukiskan suatu objek (tempat, benda, atau manusia). Paragraf naratif merupakan paragraf yang berisi cerita berdasarkan urutan serangkaian kejadian atau peristiwa. Paragraf yang berjenis eksposisi memuat penjelasan tentang sesuatu, membuka sesuatu, atau memberitahukan sesuatu sehingga pembaca atau pendengar mengerti dan memahami sesuatu itu. Pargaraf argumentatif merupakan paragraf yang isinya berupaya meyakinkan pembaca tentang gagasan atau pernyataan yang dikemukakan.
Selain itu, jenis lainnya adalah persuasif. Persuasi sama dengan bujukan, ajakan, atau rayuan. Pada paragraf pesuasif terungkap adanya keinginan penulisnya agar idenya diikuti orang lain . Hal ini dilakukan dengan cara membujuk, mengajak, atau merayu pembaca.
Berdasarkan jenis-jenis paragraf tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis tulisan sangat bergantung pada tujuan dari penulisan itu sendiri. Hal ini dapat dilihat di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kedua kurikulum tersebut kegiatan menulis diarahkan pada peningkatan keterampilan menulis siswa dalam berbagai bentuk. Misalnya, menulis laporan, surat, artikel, dan lain-lain. Jadi, penguasaan bermacam-macam menulis paragraf terintegrasi dalam berbagai produk tulisan tersebut dan tidak diajarkan secara terpisah.
Subscribe to:
Posts (Atom)




