Teori Motivasi Belajar

   
Dalam kaitannya dengan motivasi, Maslow menyusun suatu teori tentang kebutuhan manusia yang bersifat hierarkis dan dikelompokkan menjadi lima tingkat yaitu physiological, safety needs, belongingnees and love needs, esteem needs, and need for self actualization (Maslow, 1970 dalam Mulyasa, 2008 : 198)
Kebutuhan fisiologis (physiological need). Kebutuhan ini paling rendah tingkatannya dan memerlukan pemenuhan yang paling mendesak. Misalnya kebutuhan akan makanan, minuman, air dan udara.

Kebutuhan rasa aman (safety needs). Kebutuhan tingkat kedua ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Misalnya kebutuhan akan pakaian, tempat tinggal dan perlindungan atas tindakan yang sewenang – wenang.

Kebutuhan kasih sayang (belongingnes and love needs). Kebutuhan ini mendorong individu untuk mengadakan hubungan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis dilingkungan keluarga ataupun dimasyarakat. Misalnya rasa disayangi, diterima dan dibutuhkan oleh orang lain.

Kebutuhan akan rasa harga diri (esteem needs). Kebutuhan ini terdiri dari dua bagian. Pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri dan kedua adalah penghargaan dari orang lain. Misalnya hasrat untuk memperoleh kekuatan pribadi dan mendapat penghargaan atas apa – apa yang dilakukannya.

Kebutuhan akan aktualisasi diri (needs for self actualization).  Merupakan kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila kebutuhan yang ada dibawahnya sudah terpenuhi dengan baik. Misalnya seorang pemusik menciptakan komposisi musik atau seorang ilmuwan menemukan suatu teori yang berguna bagi kehidupan.

Pemenuhan kebutuhan biasanya dilakukan selangkah demi selangkah mulai dari yang terendah sampai tingkat tertinggi. Tetapi tidak demikian apabila menurut seseorang yang telah mencapai tingkat kebutuhan tinggi misalnya kebutuhan untuk berprestasi, tiba – tiba dapat kehilangan sama sekali  motifnya untuk melakukan sesuatu apabila kebutuhan untuk diakui kelompoknya tidak tepenuhi. Penurunan ini tidak terjadi dalam satu tingkat saja, tetapi dapat beberapa tingkat sekaligus.
Dalam hubungannya dengan implementasi KTSP teori Maslow ini dapat digunakan sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti mengapa :
a. Peserta didik yang lapar, sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki motivasi belajar.
b. Peserta didik lebih senang belajar dalam suasana yang menyenangkan
c. Peserta didik lebih suka belajar suasana yang bebas dari pada terlalu banyak aturan.
d. Peserta didik yang merasa disenangi, diterima oleh teman atau kelompoknya akan memiliki minat belajar yang lebih dibanding peserta didik yang diabaikan atau dikucilkan.
e. Keinginan peserta didik untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama.

Motivasi Adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya perilaku seseorang kearah suatu tujuan tertentu. Motivasi berkaitan dengan apa yang diinginkan manusia (tujuan), mengapa ia menginginkan hal tersebut (motif), dan bagaimana ia mencapai tujuan tersebut (proses). Dalam hal ini motif yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu akan mewarnai proses dan pencapaian tujuan. (H.E. Mulyasa, 2008)

Dorongan Adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Sumadi, 1971 : 70 ; Lefton, 1982 : 137 (dalam H. Sunarto).

Agar proses pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar maka apa yang disajikan guru harus disesuaikan dengan minat peserta didik. Karena setiap peserta didik memiliki perbedaan individual, sulit bagi guru untuk memerhatikan minat mereka secara keseluruhan. Namun demikian ada minat –minat umum yang dapat diperhatikan guru sesuai dengan faktor–faktor yang mempengaruhinya, seperti usia, jenis kelamin, lingkungan, adat, budaya dan status sosial ekonomi masyarakat pada umumnya.

Agar guru dapat mengajar dengan memerhatikan minat belajar peserta didik maka perlu memerhatikan faktor–faktor tersebut.
Misalnya mengaitkan pembelajaran dengan hal–hal yang terjadi dilingkungannya atau adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya (indegenous education). (H.E Mulyasa, 2008).  

Upaya meningkatkan motivasi belajar 

Berdasarkan teori motivasi sebagaimana diuraikan di atas, terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, diantaranya sebagai berikut :
1) Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya.
2) Tujuan pembelajaran harus dirumuskan dengan jelas dan dinformasikan kepada peserta didik. Mereka pun dapat dilibatkan dalam perumusan tujuan tersebut.
3) Perlu diupayakan agar setiap peserta didik mengetahui hasil belajarnya.
4) Pujian dan hadiah lebih baik dari pada hukuman, namun sewaktu – waktu hukuman juga diperlukan.
Jadi gunakan hadiah dan hukuman secara efektif, tepat waktu, dan tepat sasaran.
5) Manfaatkan sikap, cita–cita dan rasa ingin tahu peserta didik untuk kepentingan belajar dan pencapaian tujuan pembelajaran.
6) Usahakan untuk memperhatikan karakteristik dan perbedaan individual peserta didik, seperti kecerdasan, kemampuan, minat, latar belakang, dan sikapnya terhadap sekolah.
7) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan cara menunjukkan bahwa guru memperhatikan mereka, mengelola pengalaman belajar sedemikian rupa agar setiap peserta didik pernah memperoleh kepuasaan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar untuk keberhasilan sehingga mencapai prestasi dan mempunyai rasa percaya diri.

Cara meningkatkan motivasi belajar 

Banyak cara yang dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, antara lain melalui kehangatan dan keantusiasan, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan dan memperhatikan minat belajar peserta didik :

1) Kehangatan dan semangat 
Guru hendaknya memiliki sikap yang ramah, penuh semangat dan hangat dalam berinteraksi dengan peserta didik. Sikap demikian akan membangkitkan motivasi belajar, rasa senang, dan semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas–tugas yang diberikan kepadanya. Guru menjaga jangan merasa dirinya orang yang serba tahu, tetapi memposisikan diri sebagai orang–orang yang sama belajar dan haus akan ilmu pengetahuan serta informasi baru, kalau perlu guru dalam hal tertentu harus siap belajar dari peserta didiknya. Apalagi dalam era globalisasi sekarang ini tidak menutup kemungkinan dalam hal tertentu peserta didik lebih pandai atau lebih dulu tahu dari gurunya.

Misalnya dalam hal internet, hampir semua peserta didik diperkotaan sudah terbiasa dengan internet, paling tidak untuk chatting.

Bagaimana dengan guru ? jawabannya kembali kepada diri kita masing–masing yang jelas masih banyak guru gagap (gagap teknologi) atau buta teknologi (BT).

2) Membangkitkan rasa ingin tahu
Untuk membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri setiap peserta didik guru dapat melakukan berbagai kegiatan, antara lain memberikan cerita yang menimbulkan rasa penasaran dan pertanyaan (misalnya bercerita tentang dampak kenaikan harga BBM atau profil calon presiden RI), mendemontrasikan suatu peristiwa (misalnya menuangkan spiritus ke dalam mangkok, kemudian menuangkan air, serta menyalakan api di atasnya). Kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan berbagai pertanyaan berkaitan dengan apa yang telah diceritakan atau didemonstrasikan.

 3) Mengemukakan ide yang bertentangan
Ide yang bertentangan dapat dikemukakan guru sekolah dasar pada semua tingkat kelas. Ide dan pertanyaan yang dikemukakan perlu disesuaikan dengan tingkat kelas.  

4) Memperhatikan minat belajar peserta didik
Agar proses pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar maka apa yang disajikan harus disesuaikan dengan minat peserta didik. Karena setiap peserta didik memiliki perbedaan individual, sulit bagi guru untuk memperhatikan minat mereka secara keseluruhan.
Namun demikian ada minat – minat umum yang dapat diperhatikan guru sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti usai, jenis kelamin, lingkungan, adat, budaya dan status sosial ekonomi masyarakat pada umumnya.

Strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan   kualitas  dan hasil pembelajaran guru dituntut untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Mempelajari pengalaman peserta didik di sekolah melalui buku harian
2. Mempelajari nama-nama peserta didik secara langsung, misalnya melalui daftar hadir kelas.
3. Memberikan tugas yang jelas, dapat  dipahami, sederhana dan tidak  bertele-tele.
4. Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan  dalam pembelajaran sesuai  dengan yang direncanakan, tidak terjadi banyak  penyimpangan .
5. Berdiri di dekat pintu pada waktu mulai pergantian pembelajaran  agar peserta didik tetap berada  dalam posisinya sampai pembelajaran  berikut dilaksanakan.
6. Bergairah dan bersemangat  dalam melakukan  pembelajaran  agar dijadikan  teladan oleh peserta didik.
7. Berbuat  sesuatu yang berbeda  dan bervariasi , jangan monoton sehingga membantu disiplin  dan gairah  belajar peserta didik.
8. Menyesuaikan  argumentasi dengan kemampuan  peserta didik jangan memaksakan  peserta didik sesuai dengan pemahaman  guru atau mengukur peserta didik dari kemampuan gurunya.
9. Membuat peraturan yang jelas  dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
dalam:

Share:

Loading...

Postingan Terkait

No comments:

Post a Comment